.

.
الحمد لله رب العالمين، والصلاة والسلام على أشرف الأنبياء و المرسلين، وعلى آله وصحبه أجمعين أهلا وسهلا بكم إذا كانت هذه زيارتك الأولى للمنتدى، فيرجى التفضل بزيارة صفحة التعليمات كما يشرفنا أن تقوم بالتسجيل ، إذا رغبت بالمشاركة في المنتدى، أما إذا رغبت بقراءة المواضيع والإطلاع فتفضل بزيارة القسم الذي ترغب أدناه. عن أبي سعيد الخدري رضي الله عنه - قال: سمعت رسول الله ﷺ يقول: "إن إبليس قال لربه: بعزتك وجلالك لا أبرح أغوي بني آدم مادامت الأرواح فيهم - فقال الله: فبعزتي وجلالي لا أبرح أغفر لهم ما استغفروني" اللّهم طهّر لساني من الكذب ، وقلبي من النفاق ، وعملي من الرياء ، وبصري من الخيانة ,, فإنّك تعلم خائنة الأعين ,, وما تخفي الصدور اللهم استَخدِمني ولاَ تستَبدِلني، وانفَع بيِ، واجعَل عَملي خَالصاً لِوجهك الكَريم ... يا الله اللهــم اجعل عملي على تمبـلر صالحاً,, واجعله لوجهك خالصاً,, ولا تجعل لأحد فيه شيئاً ,, وتقبل مني واجعله نورا لي في قبري,, وحسن خاتمة لي عند مماتي ,, ونجاةً من النار ومغفرةً من كل ذنب يارب يارب يارب

.

.

.

.

Sunday, January 10, 2016

Mawlidur Rasul : Pendapat Ulama Ahli Sunnah

HANYA IBLIS YANG TIDAK BERGEMBIRA ATAS KELAHIRAN NABI MUHAMMAD SAW)
Disebutkan dalam Kitab Al-Bidayah wan-Nihaya (Ibn Katsir)
أن إبليس رن أربع رنات حين لعن وحين أهبط وحين ولدرسول الله صلى الله عليه وسلم وحين أنزلت الفاتحة
Iblis pernah menangis pilu sebanyak 4 x :
1- Saat ia dilaknat Allah Ta’ala
2- waktu diusir Allah
3- Ketika maulid (lahirnya) Rasulullah Shallallahu alaihi wa alaa aalihi wasallam
4- Ketika surat Al fatihah di turunkan
---->
Dan dibawah ini,
Beberapa Pendapat Ulama Besar Tentang Dianjurkannya Perayaan Maulid Nabi Yang Mulia.
1. Syaikh Ibnu Taimaiyah -rahimahullah- berkata: Mengagungkan maulid dan menjadikannya sebagai
perayaan telah dilakukan oleh sebagian manusia, dan baginya pahala yang besar karena tujuannya baik dan mengagungkan Nabi Saw. -semoga Allah menurunkan rahmat ta’dzim serta salam kepadanya, keluarga, dan sahabatnya-. (Iqtidha as-Sirath al-Mustaqim fii Mukhalafah Ashab al-Jahim, [1/297]).
2. Imam Abu Syamah, gurunya Imam an-Nawawi -rahimahumallah- berkata: Termasuk salah satu perkara baru yang bagus (Bid'ah Hasanah) di zaman kami adalah apa yang dilakukan setiap tahun pada hari tepat dilahirkannya Nabi Saw. -semoga Allah menurunkan rahmat ta’dzim serta salam kepadanya, keluarga, dan sahabatnya- berupa sedekah, perbuatan baik, menampakan hiasan, dan kebahagian. Sesungguhnya hal tersebut -beserta kebaikan yang diberikan kepada para fakir- menandakan kecintaannya kepada Nabi Saw. -semoga Allah menurunkan rahmat ta’dzim serta salam kepadanya, keluarga, dan sahabatnya- dan mengagungkan kepada beliau Saw. dalam hati pelakunya. Serta bersyukur kepada Allah atas apa yang telah diberikan-Nya berupa lahirnya Rasulullah Saw. -semoga Allah menurunkan rahmat ta’dzim dan salam kepadanya, keluarga, dan sahabatnya- sebagai utusan yang membawa rahmat kepada semuanya. (as-Sirah an-Halabiyyah karya Ali bin Burhanuddin al-Halabi [1/83-84].
3. Imam as-Sakhawi -rahimahullah- berkata: (Tidak ada seorangpun yang pernah melakukan maulidan pada tiga abad pertama, munculnya maulid setelahnya. Namun kemudian orang-orang Islam dari berbagai daerah dan kota mengadakan maulid serta bersedekah pada malam-malam harinya dengan berbagai macam sedekah dan memperhatikan bacaan maulid. Sehingga tampak anugerah yang besar bagi mereka dari keberkahan maulid. (as-Sirah an-Halabiyyah karya Ali bin Burhanuddin al-Halabi [1/83-84].
4. Imam Ibnu al-Jazari -rahimahullah- berkata: Termasuk sebagian hasiat maulidan adalah ia sebagai pelindung pada tahun itu serta mendapatkan kegembiraan yang segera dengan mendapatkan apa yang dikehendaki dan diinginkan. (as-Sirah an-Halabiyyah karya Ali bin Burhanuddin al-Halabi [1/83-84].
5. Imam as-Suyuthi -rahimahullah- berkata: Maulidan termasuk perkara baru yang baik, yang mana pelakunya akan diberikan pahala; karena di dalamnya mengagungkan derajat Nabi Saw. -semoga Allah menurunkan rahmat ta’dzim serta salam kepadanya, keluarga, dan sahabatnya-, menampakkan kegembiraan, dan merasa senang dengan kelahiran nabi yang mulia. (al-Hawi lil Fatawa [1/292])
6. Beliau juga berkata: Disunnahkan bagi kita menampakkan syukur atas lahirnya Nabi Saw. -semoga Allah menurunkan rahmat ta’dzim serta salam kepadanya, keluarga, dan sahabatnya-, berkumpul, memberikan makanan, dan semisalnya berupa perbuatan-perbuatan mendekatkan diri kepada-Nya, juga menampakkan kegembiraan. (al-Hawi lil Fatawa [1/292])
7. Beliau juga berkata: Tidak ada satupun rumah atau tempat atau masjid yang dibacakan di dalamnya maulid Nabi Saw. -semoga Allah menurunkan rahmat ta’dzim serta salam kepadanya, keluarga, dan sahabatnya-, kecuali malaikat akan mengelilingi orang-orang yang berada di tempat tersebut dan Allah akan meliputi mereka dengan kasih sayang dan keridhaan. (al-Wasail fi Syarhil Masail karya as-Suyuthi)
8. Ibnu al-Hajj –rahimahullah- berkata: Maka wajib bagi kita mempersiapkan berbagai macam ibadah pada hari senin tanggal 12 rabi’ul awwal, juga mempersiapkan kebaikan sebagai ungkapan syukur kepada Pemberi Nikmat atas nikmat agung yang telah dianugerahkannya; dan nikmat teragung ialah kelahiran orang pilihan-Nya -semoga Allah menurunkan rahmat ta’dzim serta salam kepadanya, keluarga, dan sahabatnya-. (al-Madkhal [1/361])
9. Imam Zaini Dahlan -rahimahullah- berkata: Dan termasuk mengagungkan Nabi Saw. -semoga Allah menurunkan rahmat ta’dzim serta salam kepadanya, keluarga, dan sahabatnya- adalah merasa senang dengan malam kelahirannya dan membaca maulid. (ad-Durar as-Saniyyah [190])
10. Imam al-‘Iraqi -rahimahullah- berkata: Sesungguhnya mengadakan jamuan (walimah) dan memberikan makanan adalah sunnah pada setiap waktu. Bagaimana bila hal tadi dikumpulkan dengan rasa senang serta bahagia atas lahirnya Nabi Saw. -semoga Allah menurunkan rahmat ta’dzim serta salam kepadanya, keluarga, dan sahabatnya- pada bulan yang mulia ini. Dan tidak mesti dengan adanya maulid sebagai perkara baru lantas jadi makruh, karena banyak dari perkara yang baru disunnahkan bahkan terkadang diwajibkan. (Syarh al-Mawahib al-ladunniyyah karya az-Zarqani)
11. Imam Ibnu Hajar al-‘Asqalani -rahimahullah- berkata: Asal maulidan adalah bid’ah yang tidak dinukil dari seorang ulama salaf salih pada tiga kurun pertama, meski demikian ia mengandung unsur kebaikan-kebaikan dan sebaliknya. Barangsiapa memilih kebaikan dalam melakukan maulidan serta menjauhi kebalikannya maka ia termasuk perkara baru yang baik, namun apabila tidak seperti itu maka bukan termasuk perkara baru yang baik. Dan sungguh telah jelas bagiku mengeluarkan (takhrij) perbuatan ini pada dalil yang ada pada shahihaini (kitab al-bukhari-Muslim) bahwa Nabi Saw. -semoga Allah menurunkan rahmat ta’dzim serta salam kepadanya, keluarga, dan sahabatnya- datang ke Madinah kemudian menemukan orang-orang Yahudi sedang berpuasa pada hari ‘Asyura, lantas beliau bertanya kepada mereka dan mereka menjawab: ‘Asyura adalah hari di mana Allah menenggelamkan Fir’aun dan menyelamatkan Musa, maka kami berpuasa sebagai ungkapan syukur atas anugerah pada hari itu berupa pemberian nikmat atau tertolaknya bahaya. Dan hal itu terulang pada hari yang sama setiap tahunnya. Syukur kepada Allah bisa dilakukan dengan berbagai macam ibadah seperti sujud, puasa, sedekah, membaca al-Qur’an. Dan nikmat mana yang lebih besar daripada nikmat atas lahirnya Nabi Saw., nabi pembawa rahmat pada hari itu. Maka dari ini, sebaiknya dalam maulidan dibatasi pada perkara yang berisi ungkapan rasa syukur kepada Allah Ta’ala berupa bacaan al-Quran, pemberian makanan, dan membacakan syair-syair yang menyanjung Nabi Saw. yang dapat menggairahkan hati untuk berbuat kebajikan serta perbuatan akhirat. Adapun konten lain berupa mendengarkan, hiburan, dan lainnya maka sebaiknya dikatakan begini: Perkara yang asalnya boleh sekiranya bisa membuat bahagia maka tidak masalah bila disamakan, sedangkan perkara yang asalnya haram atau makruh maka harus dicegah, begitu pula yang menyalahi keutamaan ( khilaful awla) . (al-Fatawa al-Kubra [1/196])
12. Imam Ibnu ‘Abidin -rahimahullah- berkata dalam syarahnya atas maulidnya Ibnu Hajar: Ketahuilah! Sesungguhnya termasuk dari perkara baru yang terpuji adalah maulidan yang mulia pada bulan dilahirkannya Nabi Saw. -semoga Allah menurunkan rahmat ta’dzim serta salam kepadanya, keluarga, dan sahabatnya-. Beliau juga berkata: Berkumpul untuk mendengarkan cerita pemilik mukjizat -baginya sebaik-baiknya rahmat ta’dzim dan paling sempurnanya penghormatan- adalah perbuatan paling agung dalam mendekatkan diri kepada-Nya karena di dalamnya berisi mukjizat dan banyaknya salawat.
Ulama dahulu yang memiliki karya mengenai maulid:
Al-Hafidz Abdurrahim al-‘Iraqi (w.808 H.) memiliki kitab maulid dengan judul al-Maurid al-Haniyy fi Maulid as-Saniyy.
Al-Hafidz Ibnu Katsir (w.774 H.) memiliki kitab maulid yang dicetak dengan editor Salahuddin al-Munjid.
Al-Hafidz as-Sakhawi (w. 902 H.) memiliki kitab maulid dengan judul al-Fakhr al-‘Alawi fi maulid an-Nabawi.
Al-Hafidz Ibnu al-Jauzi (w. 597 H.) memiliki kitab maulid dengan judul al-‘Arus, telah dicetak di Mesir.
Al-Hafidz Abu al-Khaththab Umar bin Ali bin Muhammad yang dikenal dengan Ibnu Dihyah al-Kalbi
(w. 633 H.) memiliki kitab maulid dengan judul at-Tanwir fi Maulid al-Basyir wa an-Nadzir.
Syamsuddin bin Nashiruddin ad-Dimasyqi (w. 842 H.) memiliki kitab maulid dengan judul al-Maurid as-Shawi fi Maulid al-Hadi dan Jami’ al-Atsar fi Maulid al-Muhktar dan al-Lafzu ar-Raniq fi Maulid Khair al-Khalaiq.
Al-Hafidz Syamsuddin bin al-Jazari (w. 660 H.) Imamnya para ahli qira’ah. Memiliki kitab maulid dengan judul ‘Urf at-Ta’rif bil Maulid as-Syarif.
Ali Zainal Abidin as-Samhudi (w. 911 H.) memiliki kitab maulid dengan judul al-Mawarid al-Haniyyah fi Maulid Khair al-Bariyyah.
Al-Hafidz Muhammad as-Saybani yang terkenal dengan sebutan Ibnu ad-Daiba’ (w. 944 H.)
Ibnu Hajar al-Haitami (w. 974 H.) memiliki kitab maulid dengan judul Itmam an-Ni’mah ‘ala al-‘Alam bi Maulid Sayyid Walad Adam.
Al-Khatib as-Syirbini (w. 1014 H.) memiliki kitab maulid dengan judul al-Maulid ar-Rawiy fi Maulid an-Nabawi.
Al-Muhaddits Ja’far bin Hasan al-Barzanji (w. 1177 H.) memiliki kitab maulid dengan judul ‘Iqd al-Jawahir fi Maulid an-Nabiy al-Azhar. Kitab ini adalah yang paling banyak menyebarnya di negara-negara muslim.
Konklusi:
Sesungguhnya apa yang telah dikatakan satu persatu ulama yang terpercaya dalam menukil syariat yang terjaga … mereka itu banyak tidak terhitung dan sebagai mayoritas. Dan umat telah menerima ajaran agama dari mereka dengan jalan transmisi (sanad) yang bersambung kepada para sahabat yang mulia kemudian kepada guru besar Saw. mereka adalah ahli wara’ (menjauhkan diri dari dosa) dan takut (kepada Allah). Apakah mereka semua; ulama besar yang terkemuka dalam bidang keilmuan dan terbukti kesalihannya sepakat pada kebatilan?! Maha Suci Allah ! maka dari mana kita mengambil agama kita kalau begitu dan siapa yang akan kita percaya ketika mereka yang terdahulu berjalan pada kebatilan, padahal ajaran agama kita diambil melalui jalur mereka –semoga keridhaan menyertai mereka semua dan semoga Allah membalas atas jasanya kepada ummat dengan sebaik-baiknya balasan. Dan apa yang telah mereka jelaskan dalam masalah ini sudah cukup bagi mereka yang berpikir dan mencari kebenaran, yang terlepas dari hawa nafsunya.
Allah yang memberikan taufik dan petunjuk.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

.

Rasulullah s.a.w bersabda :

” Sesungguhnya seorang hamba yang bercakap sesuatu kalimah atau ayat tanpa mengetahui implikasi dan hukum percakapannya, maka kalimah itu boleh mencampakkannya di dalam Neraka lebih sejauh antara timur dan barat” ( Riwayat Al-Bukhari, bab Hifdz al-Lisan, 11/256 , no 2988)